Yesterday and Now

Yesterday and Now

Kemarin rindu mencubit menyuruhku melirik
Aku lebih memilih pura-pura tuna rasa lalu bayangkan ada nyaman yang lebih menarik.

Kemarin kenangan mengajakku berkunjung
Aku lebih memilih pura-pura tak tahu lalu bersiap sambut cinta baru datang.

Kemarin aku suka menganti hadirmu dengan bir dingin
Sekarang aku lebih memilih habiskan waktu buat catatan angan yang penuh ingin.

Kemarin seteguk kopi hangat hadirkan beberapa penari kenangan
Sekarang aku lebih memilih begitu saja melewatkan dan bergegas melupakan.

Kemarin bulan bertemu aku di persimpangan malam
Dia bertanya kemana Tuan yang dulu aku ceritakan
Aku bilang dia berlayar lalu mati tenggelam.

Kemarin malam menyindirku diam-diam
Dia bertanya kemana perginya rinduku yang terlalu dalam
Aku jawab dia sudah mati bertumpuk belum dimakamkan.

Kemarin ingatan juga mengundangku ke taman kenangan
Tempat dimana cerita banyak aku tanam
Aku bilang, jadikan saja sekedar peninggalan.

HALIMAH QUEEN
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
WEBSITE/BLOG: queenfirst.blogspot.co.id

Ketulusan

Ketulusan

Seperti mentari,
Yang tak pernah meninggalkan bumi
Walau kadang tertutup awan,
Biarpun malam tiba,
Mentari tetap setia menyinari bumi
Meski melalui rembulan...

Mentari tak pernah mengeluh
Sebab yang diinginkannya hanya menjaga bumi
Agar tetap hangat
Agar jauh dari kegelapan,
Meskipun ia tak dapat selalu menemani bumi
Sengan hadirnya...

AMIRRA AMY
TENTANG PENULIS:

INSPEKTORAT Prop. Maluku Utara
GOOGLE+: https://plus.google.com/u/0/110516050680111247831

Hey, I am Doomed and I am Happy

Hey, I am Doomed and I am Happy

I'm in my depressed mode again.
Blame stupid T.O.K presentation, fuck fuck fuck fuck fuck!!

OH, I'm sorry, am I speaking JARGON to you all?
Okay, okay... I'll tell you what a TOK is.
It is a compulsory subject in IB DIPLOMA where all the students study all the basic things about knowing your knowledge, just like the subject's name, Theory Of Knowledge.
What? Not enough information? Gee, I'm sorry I would love to tell you everything about TOK, but guess what? I don't understand any single thing about TOK. Yay me! :)

So, tomorrow is the presentation day. It took the whole day off, I mean it, whole.... day... off!
Can you imagine it? Only for stupid TOK presentation other subjects was being ignored, nyah.
I like it though, IF and ONLY IF (wtf, I'm speaking logic from math here) I don't have to do the presentation MUAHAHAHAH! (devil666).
So sad to hear though, I have to. Shit!

My gosh, I'm sorry, I guess I've written too many harsh words here. Hmm, I can only hope there's no underage kids who's going to read this blog. *Err, I guess that includes me? I'm still 16, does that count as an underage kid?*

Hm, I just continued writing my TOK part today at 12-ish PM, I'm too lazy to do it from Sunday afternoon, hha. I discussed this TOK shit with Yuri, and omfg she's so nice (ciee Yuri, besar kepala nih). She helped me with some of my part, now what I gotta do is to read what she just sent me and *DENG-DENG*... trying to understand the whole shit and make a summary for my cue cards so I won't be too nervous tomorrow, still I bet I still am going to be nervous tomorrow.

Hm, it is a little off topic but somehow (I wonder how), yuri and I talked about the decision I made about quitting school and stuffs, and geez... I'm nervous! I still don't know whether my decision is right or wrong, but my Gosh I DON'T WANT TO CONTINUE THIS IB (read: HELL) COURSE! And yet, it is too late to go to UNAS and I don't want to cause I'm very unfamiliar with the whole Indonesian terms. Seriously, I'm c l u e l e s s . . .

Hm, I got nothing else to share for today... OH! Actually I do, hihi.

Today my boyfriend skipped his classes after 11-ish AM (Sydney time) just to keep me company, awww me lovey you nushy! :)

MELINDA SEPTIFIANI
TENTANG PENULIS:

MAHASISWI/ PENULIS
WEBSITE/BLOG: mel--hoppus182.blogspot.com

Egokah Aku?

Egokah Aku?

Aku merasa wanita paling beruntung di dunia karena Tuhan telah mempertemukanku dengan seorang pria yang sangat aku cintai. SANGAT. Aku juga merasakan dan percaya padanya bahwa dia juga sangat mencintaiku. Bahkan hatiku terenyuh ketika dia usil memintaku untuk sekedar bilang bahwa aku tidak akan meninggalkannya. Atau ketika dia bertanya apakah aku masih mencintainya. Tentu saja, tanpa berpikir panjang langsung kujawab, ya. Kadang–aku tidak tahu apakah karena terlalu besar rasa cinta ini–aku bahkan sangat sulit mengungkapkannya. Hanya dengan pria inilah, sangat sulit bagiku untuk mengutarakan perasaanku. Padahal di dalam hati ini sudah teriak “AKU SAYANG KAMUUU…!” Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya selain bilang “aku sayang kamu” dan saat aku menyatakan tiga kata itu terlihat sangat datar–jauh dari apa yang sebenarnya ada di hati ini. Kuharapa dia mengerti yang sebenarnya.

Apa yang aku rasakan bukan tanpa alasan. Enam bulan bersamanya menurutku bukan waktu yang singkat. Terlebih waktu yang setengah tahun itu belum pernah rasa bosan mengusik rasa cintaku untuknya. Apakah itu aku? Entahlah! Tapi aku yang dulu sangat berbeda ketika berhadapan dengan pria yang satu ini. Satu-dua bulan hubungan biasanya sudah menumbuhkan rasa bosanku. Maka dari itu aku tidak suka menjalin hubungan dengan laki-laki satu sekolah, satu kampus, apalagi dengan tetangga. Bahkan aku lebih suka memilih hubungan jarak jauh.

Tapi, dengan pria ini, sekali lagi aku katakan, sangat berbeda. Tak ada rasa bosan sedikit pun padanya hingga saat ini. Dia pria yang sangat berbeda :)
Meski begitu, ada sebuah ketakutan yang setengah mati aku hindari namun tetap tidak bisa. Aku takut kehilangan dia. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia. Aku tahu ini egoku namun  ada ‘ego’ yang lain yang lebih kuat yakni ego Tuhan.

Maaf aku menyatakan seperti itu karena memang itulah kenyataannya. Tuhan memutuskan sesuatu hal tanpa berkompromi terlebih dahulu dengan makhluknya. Tak peduli apakah sudah ada kata “deal” di antara kedua belah pihak atau tidak. Yang pasti, “jadilah, maka akan terjadi”.

Ah, lupakan soal itu. Yang aku pikirkan adalah bagaimana aku bisa menghilangkan rasa takut ini. Aku ingin selalu bersamanya, menjadi wanita yang dia ingat selalu, yang dia sayang, yang dia pandang selalu meski saat ini hanya melalui foto-fotoku, wanita yang penting di hidupnya. Bukan sebaliknya! Bisakah aku memilih takdir itu? Takdir yang menurutku baik untukku? Hidup bersama laki-laki yang aku cintai saat ini, besok, dan seterusnya? Laki-laki yang selalu membuatku bertanya di dalam hati: apa kabar dia di sana, baik-baikkah dia? Laki-laki yang rasa cintaku padanya melebihi laki-laki yang pernah aku temui sebelum dia. Jika benar itu takdirku, mengapa tidak Kau kabulkan, Tuhan? Atau belum saatnya itu terkabul? Baiklah, akan kutunggu, asalkan dengan takdir yang itu. Bukan yang lain.

DILA NOVIA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/ MAHASISWI
WEBSITE/BLOG: tulisandila.wordpress.com
Twitter:@noviafrd
Instagram: https://instagram.com/dilanovia/

Kesadaran Cinta

Kesadaran Cinta

“Baik, nanti saya tunggu proposal anda. Setelah cukup bagus dan menarik saya akan segera tanda tangani untuk bekerja dengan perusahaan anda.”
“Baik pak, terima kasih.” Pemuda berdasi itu menjabat tangan Ramlan, Ramlan menerimanya dengan satu ayunan mantap.

Setelah tamunya pergi Ramlan segera sibuk dengan layar laptop yang ada di depannya. Tak akan ada waktu terbuang percuma baginya, waktu adalah barang berharga yang tak mau ia sia-siakan.

Tok Tok Tok...

“Maaf Pak, ada yang ingin bertemu.” Seorang perempuan cantik dengan baju sangat rapi masuk ruang kerja Ramlan.
“Siapa Rin?” Ramlan tak beralih pandang sedikit pun dari layar laptopnya.
“Mbak Kesya Pak.”
“Oh, iya persilakan masuk saja.” Ramlan masih sibuk dengan ketikan di laptopnya.

Sesaat kemudian perempuan bernama Kesya itu memasuki ruang kerja Ramlan dengan gaun berwarna biru.

“Hai, sayang...masih sibuk?” Kesya menghampiri Ramlan yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.
“Kamu kok nggak bilang mau datang.”
“Aku sudah kirim pesan, sudah aku telepon juga nggak diangkat kan.”
“Oh, iyakah? Maaf aku tadi ketemu client.”
“Kamu sibuk banget sih, luangin waktu sedikitlah. Nanti malam kan acara ulang tahun mama kamu.”
“Kamu sendiri nggak sibuk? Tabloid kamu apa kabarnya?”

Kesya duduk di sofa warna hitam yang terletak di samping kanan meja kerja Ramlan, “Tabloid aku makin melejit sih sekarang, tugas tugasku juga sudah tuntas kemaren.”

“Oh, baguslah kalau begitu.”
“Ram, segitu cintanya banget ya sama laptop? Sampai ngobrol sama aku aja kamu masih nggak lepas pandang dari laptopmu itu.” Kesya mulai sebal.
“Aku lagi sibuk sayang, nanti kita bahas lagi ya. Kamu mau nungguin disini juga boleh tapi jangan berisik.”
“Ih, kamu tuh ya. Kerjaan melulu yang diurusin.”

******

Hampir pukul delapan malam, Ramlan masih berkutat dengan pekerjaannya. Banyak orang yang harus ia temui hari ini, ada rapat penting juga yang harus ia hadiri. Kesya akhirnya memutuskan untuk pulang dari kantornya. Sesaat setelah itu Ramlan sudah melupakan perbincangannya dengan Keyla. Berulang kali telponnya berdering, ada banyak pesan pula masuk di ponselnya. Tapi Ramlan masih saja tak mau beranjak dari laporan laporan hasil kerjanya. Ia berpikir pasti Kekasihnya Kesya yang melakukan panggilan atau mengirim pesan.

Tiba-tiba kepala Ramlan berdenyut, sakit kepalanya kambuh lagi. Kemudian sesak napasnya segera menyusul. Dadanya sesak. Laptop di hadapannya ditinggalkan juga, ia mencari obat yang ia pikir ada di tas atau meja kantornya. Tetapi nihil, tak ada sebutir obat pun disana. Ramlan terduduk di sofa kantornya, ia ingin meraih ponselnya tapi ia sudah terlalu payah. Akhirnya ia pasrah.

“Sayang, kamu nggak apa apa?”

Pandangan Ramlan mengabur, tapi ia masih mendengar suara samar samar.

“Tolong bawakan ini nak Kesya.”
“Ia Ma.”
“Ramlan, kamu kebiasaan. Penyakitmu kambuh lagi karena terlalu memforsir tenaga.”

Ramlan merasakan pelukan hangat di tubuhnya, inhaler terpasang di mulutnya. Napasnya perlahan stabil, pandangannya mulai jelas memandang siapa saja yang ada di ruangan itu.

“Mama...”

Mamanya tersenyum, guratan keriput di wajah rentanya masih menghangatkan Ramlan.

“Sayang, kamu itu ya. Sudah berkali kali aku hubungi. Acara makan malam ulang tahun mama gagal gara gara kamu sibuk aja sendiri.” Kesya menemani Mama Ramlan yang bersikeras ke kantor anaknya malam malam dan tidak memedulikan ulang tahunnya.
“Maaf, Ma, Selamat ulang tahun ya.”
“Iya nggak apa apa nak.” Mama Ramlan membelai rambutnya.
“Sayang, mama kamu sangat sayang sama kamu. Setidaknya ingatlah bahwa kamu sampai seperti ini, sukses dan jadi pengusaha muda adalah karena kasih sayang seorang mama. Janganlah kamu merasa hebat sendiri, luangkan waktumu untuk orang orang yang mencintaimu.” Kesya berkata sambil berkaca kaca. Selama menjadi kekasih Ramlan, Kesya tahu betul sikap Ramlan yang workaholic sampai mengabaikan keluarganya.

Ramlan membisu dan dengan cepat memeluk mamanya. Malam itu mereka merayakan kebahagiaan penuh kesadaran cinta.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Begitu Mencintaimu

Begitu Mencintaimu

Aku begitu mencintai sajak,
seperti puisi butuh kata, dan lagu butuh irama.

Aku begitu mencintai biru pagi,
seperti ibu yang lupa hari lahirnya tapi ingat pertama anaknya berlari.

Aku begitu mencintai senja,
langit memakai pemulas pipi lalu pulang dengan doa yang aku eja.

Aku begitu mencintai malam,
gelap pekatnya mengantarkan aku lelap abaikan dingin kelam
bersama dinding kaku yang selalu kembali putar beberapa drama
lalu kamu yang selalu jadi alasan, aku menangis tertawa pergi bahkan bertahan.

Aku begitu mencintaimu,
meski tak melebihi cinta untuk Tuhan dan kedua orang tuaku.

Aku begitu mencintaimu.
Aku berharap kamu pun begitu.
Meski dalam hitungan detik atau bahkan dalam mimpi yang buru-buru pergi.

HALIMAH QUEEN
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
WEBSITE/BLOG: queenfirst.blogspot.co.id

Halo Pak ?

Halo Pak ?

Ada segelintir sikap dalam hidup, sebagai seorang perempuan aku selalu merasa ingin dilindungi tetapi selalu ingin terlihat kuat di depan siapapun, siapapun.
Kontra memang semua itu tetapi apa yang bisa kuperbuat ? Memang seperti itu adanya.
Ada dilema sendiri dalam jiwaku mengenai perasaan penuh tanya yang mengganjal dalam benak kecilku, aku menyebutnya sebagai benak kecil karena rasanya lemah namun berlarut-larut dan sering kali membuat aku gelisah.
Jangan terkejut jika sesekali aku merengek bagai anak kecil yang manja, aku pun menyadarinya.
Namun, di sisi lain aku bisa menjadi perempuan kuat yang selalu tersenyum dimanapun dan kapanpun serta apapun yang terjadi.
Terkadang aku seperti membutuhkan seseorang yang selalu hadir merengkuh segala yang aku rasakan dan dengan senang hati bersedia menyediakan tempat untuk berbagi apa yang aku rasakan, kepadanya, seorang laki-laki, seorang Bapak, Bapakku sayang.
Berat sebenarnya menerima kenyataan bahwa Bapak sudah berada di tempat yang belum bisa aku jangkau, padahal aku selalu punya banyak cerita buat bapak, ada banyak perihal yang mau aku bagi ke bapak dan aku membutuhkan pandangan bapak sebagai laki- laki.

Kangen Pak, Mama juga pasti kangen bapak, kita semua kangen bapak.
Aku masih belum bisa apa-apa Pak, bantu aku pak biar aku bisa ngelakuin apa yang bapak bisa lakuin juga dulu ya Pak.

Bapak lagi apa ?

YUTTA PARAMARESI
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
WEBSITE/BLOG: http://rumahyutta.blogspot.co.id

Tuan Rambut Ikal

Tuan Rambut Ikal

Pagi ini

Saat hujan mendarat, tanpa sekat, dan tidak menghadirkan hangat. Jendela kaca enggan terbuka, enggan bercerita ada apa diluar sana. Kaki kecil melangkah resah sebab takut pakaiannya basah. Hayalan pukul tujuh datang mendera. Tak sengaja namamu ku eja. Sumpah, aku tak sengaja. Ingatan dikepalaku menari lagi. Jauh lebih kejam dibanding gluduk dipagi hari. Aku takut, aku berselimut. Sebab mengingatmu terkadang menghadirkan dingin yang lebih-lebih dari kutub. Aku bisa hipotermia, mati dan tidak bisa membuka mata.

***

Malam itu

Aku ingat betul bagaimana setelah ratusan hari tanpa ba-bi-bu dan akhirnya kita bertemu. Juga bagaimana aku menahan diriku sekuat tenaga untuk tidak terlebih dahulu memelukmu karna disergap rindu. Sungguh aku rindu pada rambut ikal itu. Dan ribuan cerita tentang belaian tanganku yang menyapu indah rambutmu. Aku rindu rambut ikalmu, lebih-lebih isi kepalamu itu. Tiap-tiap abstrak sederhana yang tetap saja membuat aku mudah jatuh cinta. Pada dua pasang mata yang bicara tanpa satu patah kata. Dan bagaimana hidungmu menghembuskan napas yang membuat hidupku terasa lebih lepas. Pada bibirmu yang masih saja membuat aku terlena, dalam ingatan kecupan pertama yang gugupnya masih saja hinggap. Atau pada dekap dada yang hangatnya sangat sempurna, aku nyaman untuk lebih lama berkemah disana.

***

Siang ini

Kamu selalu memulai dengan cara yang itu-itu saja. Dan aku selalu tersesat di tengah acara. Kamu selalu mengawalinya dengan cerita sederhana. Tapi aku selalu mati diakhir cerita. Aku selalu, selalu aku. Hitam-putih, riuh-senyap, terang-gelap, lapang-pengap aku ada disisimu, selalu sebisaku. Tapi pada akhirnya memang cinta tak pernah makan bangku sekolah. Tak tau ramah-tamah terhadap tamunya. Jangankan dipersilakan singgah. Barang melirik sedikitpun dia menolak dengan gagah. Aku tau banyak bidadari yang selalu ada jika kamu mau, tapi sudikah mereka tetap ada disaat kamu butuh?. Tuan rambut ikal, terimakasih untuk kedatangan yang singkat tapi sudah membuatku skakmat. Terimakasih tuan sudi memilih aku yang tak seberapa ini untuk singgah. Tak apa jika kamu pergi seenaknya. Yang terpenting bukan lagi bagaimana, tapi mengapa aku bisa memaafkanmu tanpa celah. lagi dan lagi, tanpa kenal lelah.

***

Suatu hari nanti

Tuan rambut ikal, bukannya aku besar kepala. Mungkin suatu hari nanti kamu akan menyesal karna telah kehilangan harta yang sebenarnya paling berharga. Cinta yang lapang, hati tempatmu pulang, dan manusia yang sekuat tenaga yang membuatmu senang. Suatu hari nanti pasti kamu mengerti. Betapa bodohnya kamu telah menendang manusia seberharga ini. Sibuklah kamu mengumpuli batu sebanyak yang kamu bisa. Percayalah, suatu hari nanti kamu akan kecewa karena ternyata intan berharga telah kamu sia-siakan begitu saja. Tuan rambut ikal, kamu ingin kembali padaku? Jangan harap! Hatiku sudah kukunci rapat, tak akan terbuka walau kamu mengetuk hebat.

INTAN IRA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
WEBSITE/BLOG: http://aksaraira.blogspot.co.id/

(The Same) Mistakes-Promises-Forgiveness

(The Same) Mistakes-Promises-Forgiveness

Pernah melakukan kesalahan yang sama kepada orang yang sama nggak? Yah, mungkin banyak yang seperti itu. Melakukan satu kesalahan, trus minta maaf. Besoknya melakukan kesalahan yang sama, minta maaf, berjanji nggak melakukan kesalahan itu lagi. Eh, besok dan besok dan besoknya lagi dilakukan lagi. Well, kembali ke teori klasik: manusia hanya makhluk biasa yang nggak luput dari kesalahan (yang sama).

Kadang kita memang harus belajar memahami, sabar, tegar, maklum, kadang harus memahami, harus sabar, harus tegar, harus maklum, atau bahkan sok maklum, sok tegar, sok sabar! Mau gimana lagi, dari pada ujung-ujungnya fight.

Tapi, coba deh ya bagi kalian yang punya habbit seperti itu, bisa nggak sih yang seperti itu diubah? Ada teori yang lain: manusia itu adalah makhluk senpurna karena memiliki akal dan pikiran. Nah, tahu, kan, maksudnya apa?

Sometime, coba pikirkan perasaan mereka-mereka yang pernah kamu sakiti dengan kesalahanmu itu. Mereka memang tampaknya selalu bisa memaafkan. But, you know, maaf mereka bukan hanya untuk kalian saja. Terlebih, jika kalian pernah meminta maaf dan make a deal untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi. Tapi, kalian melakukannya, again and again! So, where is those your promises?, huh?

Nah, please, cobalah belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama,seperti mereka yang bisa belajar untuk memaafkan kesalahan kalian yang sama itu!

DILA NOVIA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/ MAHASISWI
WEBSITE/BLOG: tulisandila.wordpress.com
Twitter:@noviafrd
Instagram: https://instagram.com/dilanovia/

Memo-ri(am)

Memo-ri(am)

Belum lama usang rupanya lembaran kertas kecil bercorak bunga bunga warna cream dan cokelat ini. Belum lama pula aku mengasingkannya sebab patah hati yang terlalu kejut untuk kusimpan sendiri. Lembaran memo itu sempat mengisahkan tentang jatuh cintanya aku, merindunya aku, dan kekhawatiranku. Bermula dari kebahagiaanku bertemu dengannya, kemudian mengalirlah beberapa cerita. Aku sengaja menuliskannya di memo memo kecil ini lalu kutempelkan pada dinding kamar kosku agar mampu mengingat bagaimana perasaanku berbicara saat bersamamu.

Lalu pada hari yang ke entah, aku putuskan untuk berhenti menempelkan lembaran memo itu di dinding. Padahal aku ingin sekali memo cantik itu memenuhi segala penjuru dinding kamar kosku dengan berbagai tulisan tentang kamu. Tapi ketika aku ingin menjadikan memo itu sebagai pengingat kini aku ingin melupa. Melupa apapun tentang kejadian bersamanya. Sempat ingin kubakar saja memo memo itu atau menguburkannya dengan galian lubang pasir terdalam tapi segera saja kuurungkan. Aku hanya melepaskannya dari dinding bercat pink pastel kamar kosku, biar saja aku tak lupa tapi hanya sekadar menyimpan kenangannya.

Kini sudah aku lerai segala kecamuk batin untuk tak mempermasalahkan memo itu, aku tak mencoba melupa ataupun menghapus cerita tulisannya. Lembaran memo cantik ini hanya akan menjadi memori. Hanya berupa kenang masa lalu yang cukup saja menjadi  pelajaran dan pengalaman bagi diri. Biar saja perlahan ia mati sendiri.

Memoku yang cantik aku relakan kau menjadi memori(am)

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena