Showing posts with label CERPEN 24 JAM. Show all posts
Showing posts with label CERPEN 24 JAM. Show all posts

Senasib Sepenanggungan

Senasib Sepenanggungan

“Oh ternyata kamu seperti itu ya selama ini.”
“Maksud kamu apa Din?”
“Udahlah La, nggak usah sok baik sekarang sama aku. Sudah kebongkar semua keburukanmu. Nggak ada kata sahabat lagi diantara kita.” Nadin meninggalkan Darla dengan sejuta tanda tanya di benak.

Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka Darla pun tak tahu. Padahal baru kemaren mereka menghabiskan waktu bersama. Kebanyakan memang Nadin yang curhat tentang kekasihnya tapi kemarin Nadin baru saja putus. Ia masih sangat teringat perkataan Nadin, “Aku nggak akan sedih sedih lagi karena putus cinta La, ada kamu yang selalu ada buat aku. Nggak guna nagisin laki laki. Ya nggak?” Kemudian Nadin tertawa renyah, saat itulah Darla merasa terenyuh dengan perkataan Nadin yang masih sangat kekanak kanakan itu.

Mereka bersahabat memang masih sekitar satu tahun ketika Ayah Nadin dipindahtugaskan dan ia sekeluarga harus tinggal di daerah baru. Darla bertemu Nadin ketika mereka ada dalam satu ruangan kursus bahasa Inggris. Tapi semenjak itu mereka seperti kakak beradik yang tak terpisahkan bahkan banyak teman mereka dan banyak orang mengatakan bahwa mereka kembar. Ada yang berkata “Kalau ada Nadin pasti ada Darla” dan sebaliknya.

******

Nadin tak percaya dengan kenyataan bahwa sahabat yang selalu mengalah untuknya itu ternyata menghianati dia. Nadin tak mau percaya memang tapi apa
yang didengarnya terlalu merobek hati dan menyulut emosi. Nadin diam di kamar, tugas tugas dari sekolah tak mampu ia kerjakan. Pikirannya melayang, ia tak ingin bertengkar dengan Darla.

“Nadin......Nadin....” bundanya menggedor pintu kamar tak sabar.
“Iya Bun.” Nadin membuka pintu kamar dan langsung terkejut ketika bundanya tergeletak di lantai sambil menangis histeris.
“Bun, bunda kenapa?”
“Din...Din....” Bundanya masih terisak.
“Bunda tenang dulu, ada apa?” Nadin mulai gelisah, ada perasaan tak enak meraup.
“Ayah Din, Ayah....”
“Ayah kenapa bun?”
“Ayahmu, ayah tertembak malam ini.”

Seketika, tubuh Nadin ikut lemas. Ia terkulai bersandar di dinding.

*****

“Ngapain kamu kesini? Puas lihat aku sedih?”
“Din, sedikit pun aku nggak pernah ada maksud nyakitin kamu. Apalagi senang lihat kamu bersedih.”
“Nggak usah alasan, pergi sana.”
“Aku cuma mau kasih ini, aku turut berduka cita atas ayahmu. Aku minta maaf jika aku banyak salah padamu.” Darla memberikan sebuah kaset VCD kemudian pergi.

Sebenarnya enggan untuk memutar dan melihat isi VCD itu tapi rasa penasaran Nadin tak dapat terbendung.

“Din, aku minta maaf jika ada salah ke kamu. Jujur aku nggak tahu sebenarnya yang terjadi diantara kita. Aku mencoba menelusuri apa yang salah dan ternyata aku tahu bahwa ada orang yang tak suka dengan persahabatan kita kemudian memfitnahku dengan berbicara tak sesungguhnya padamu. Aku benar benar tak pernah melakukan apa yang kau dengar dari orang orang itu Din. Aku sayang kamu, nggak tega dan nggak mungkin aku nyakitin perasaan kamu. Aku minta maaf. Aku berbela sungkawa atas kepergian ayahmu. Sepertinya kita senasib, ayahku juga turut tewas dalam baku tembak yang sama. Aku dengar ayahku sempat menyelamatkan ayahmu tapi mereka berdua mungkin sama sama ditakdirkan bersama di surga. Maafkan aku Din.”

Air mata Nadin berderai tak tertahan, penyesalan merasuki pembuluh darahnya. Dadanya sesak, sulit bernapas. Ternyata bukan hanya dia yang merasakan kepiluan, tetapi Darla juga. Mungkin mereka memang senasib sepenanggungan.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Kesadaran Cinta

Kesadaran Cinta

“Baik, nanti saya tunggu proposal anda. Setelah cukup bagus dan menarik saya akan segera tanda tangani untuk bekerja dengan perusahaan anda.”
“Baik pak, terima kasih.” Pemuda berdasi itu menjabat tangan Ramlan, Ramlan menerimanya dengan satu ayunan mantap.

Setelah tamunya pergi Ramlan segera sibuk dengan layar laptop yang ada di depannya. Tak akan ada waktu terbuang percuma baginya, waktu adalah barang berharga yang tak mau ia sia-siakan.

Tok Tok Tok...

“Maaf Pak, ada yang ingin bertemu.” Seorang perempuan cantik dengan baju sangat rapi masuk ruang kerja Ramlan.
“Siapa Rin?” Ramlan tak beralih pandang sedikit pun dari layar laptopnya.
“Mbak Kesya Pak.”
“Oh, iya persilakan masuk saja.” Ramlan masih sibuk dengan ketikan di laptopnya.

Sesaat kemudian perempuan bernama Kesya itu memasuki ruang kerja Ramlan dengan gaun berwarna biru.

“Hai, sayang...masih sibuk?” Kesya menghampiri Ramlan yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.
“Kamu kok nggak bilang mau datang.”
“Aku sudah kirim pesan, sudah aku telepon juga nggak diangkat kan.”
“Oh, iyakah? Maaf aku tadi ketemu client.”
“Kamu sibuk banget sih, luangin waktu sedikitlah. Nanti malam kan acara ulang tahun mama kamu.”
“Kamu sendiri nggak sibuk? Tabloid kamu apa kabarnya?”

Kesya duduk di sofa warna hitam yang terletak di samping kanan meja kerja Ramlan, “Tabloid aku makin melejit sih sekarang, tugas tugasku juga sudah tuntas kemaren.”

“Oh, baguslah kalau begitu.”
“Ram, segitu cintanya banget ya sama laptop? Sampai ngobrol sama aku aja kamu masih nggak lepas pandang dari laptopmu itu.” Kesya mulai sebal.
“Aku lagi sibuk sayang, nanti kita bahas lagi ya. Kamu mau nungguin disini juga boleh tapi jangan berisik.”
“Ih, kamu tuh ya. Kerjaan melulu yang diurusin.”

******

Hampir pukul delapan malam, Ramlan masih berkutat dengan pekerjaannya. Banyak orang yang harus ia temui hari ini, ada rapat penting juga yang harus ia hadiri. Kesya akhirnya memutuskan untuk pulang dari kantornya. Sesaat setelah itu Ramlan sudah melupakan perbincangannya dengan Keyla. Berulang kali telponnya berdering, ada banyak pesan pula masuk di ponselnya. Tapi Ramlan masih saja tak mau beranjak dari laporan laporan hasil kerjanya. Ia berpikir pasti Kekasihnya Kesya yang melakukan panggilan atau mengirim pesan.

Tiba-tiba kepala Ramlan berdenyut, sakit kepalanya kambuh lagi. Kemudian sesak napasnya segera menyusul. Dadanya sesak. Laptop di hadapannya ditinggalkan juga, ia mencari obat yang ia pikir ada di tas atau meja kantornya. Tetapi nihil, tak ada sebutir obat pun disana. Ramlan terduduk di sofa kantornya, ia ingin meraih ponselnya tapi ia sudah terlalu payah. Akhirnya ia pasrah.

“Sayang, kamu nggak apa apa?”

Pandangan Ramlan mengabur, tapi ia masih mendengar suara samar samar.

“Tolong bawakan ini nak Kesya.”
“Ia Ma.”
“Ramlan, kamu kebiasaan. Penyakitmu kambuh lagi karena terlalu memforsir tenaga.”

Ramlan merasakan pelukan hangat di tubuhnya, inhaler terpasang di mulutnya. Napasnya perlahan stabil, pandangannya mulai jelas memandang siapa saja yang ada di ruangan itu.

“Mama...”

Mamanya tersenyum, guratan keriput di wajah rentanya masih menghangatkan Ramlan.

“Sayang, kamu itu ya. Sudah berkali kali aku hubungi. Acara makan malam ulang tahun mama gagal gara gara kamu sibuk aja sendiri.” Kesya menemani Mama Ramlan yang bersikeras ke kantor anaknya malam malam dan tidak memedulikan ulang tahunnya.
“Maaf, Ma, Selamat ulang tahun ya.”
“Iya nggak apa apa nak.” Mama Ramlan membelai rambutnya.
“Sayang, mama kamu sangat sayang sama kamu. Setidaknya ingatlah bahwa kamu sampai seperti ini, sukses dan jadi pengusaha muda adalah karena kasih sayang seorang mama. Janganlah kamu merasa hebat sendiri, luangkan waktumu untuk orang orang yang mencintaimu.” Kesya berkata sambil berkaca kaca. Selama menjadi kekasih Ramlan, Kesya tahu betul sikap Ramlan yang workaholic sampai mengabaikan keluarganya.

Ramlan membisu dan dengan cepat memeluk mamanya. Malam itu mereka merayakan kebahagiaan penuh kesadaran cinta.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Sebelum Pergi

Sebelum Pergi

“Sudah kamu persiapkan semua Qi?” Dara sibuk merapikan baju dan beberapa barang di tas Riqi.
“Emm...map mapku udah aku masukkan semua belum ya?” Riqi berdiam sejenak sambil mengingat.
“Map map buat penelitian disana?”

Riqi mengangguk dan melangkah menuju meja belajarnya untuk mencoba mengecheck kembali berkas berkas yang ia perlukan.

“Ehm...hey hey ini...” Dara mengangkat map map warna biru itu di tangan kanannya.
“Ah, iya itu. Kok kamu tahu sih Ra?”
“Apa sih yang nggak aku tahu tentang kamu Qi.” Dara tersenyum jahil

Riqi tiba tiba terdiam dan raut mukanya berubah sedikit menegang. Ia melamun sesaat, ‘kamu nggak tahu Ra, sebenarnya aku ingin kamu mencegah kepergianku tapi kamu malah sibuk meyiapkan semuanya untukku.”

“Hey, kok malah bengong sih. Ayo rapiin lagi itu barang barangmu.” Dara menyenggol lengan Riqi.
“Ah, iya iya.” Riqi kembali tenggelam mengemasi beberapa barang yang akan ia bawa ke negeri seberang.
“Dara, Riqi, ayo makan siang dulu sebelum berangkat ke bandara.” Mama Riqi masuk ke kamar dan mengajak mereka segera menuju ruang makan.
“Oh, iya tante. Terima kasih.”
“Duh, Dara baik sekali sih bantuin Riqi sampai repot repot ikut packing begini.”
“Ya kan kapan lagi bantuin Riqi tante, biasanya aku yang ngerepotin. Sekarang saatnya aku bantu Riqi kan dia sebentar lagi hijrah ke negeri orang.”

Mama Riqi tersenyum melihat tingkah Dara yang sangat bersemangat lalu meninggalkan mereka. Sedang Riqi kembali melamun, ia berusaha menepis segala pikirannya yang kacau.

“Qi, ayo makan dulu yuk. Masa’ kamu kelaparan nanti pas perjalanan.”
“Bentar lagi ya Ra.” Riqi menyibukkan diri dengan mengemas beberapa peralatan mandi.
“Kamu ngapain sih bongkar bongkar itu lagi kan udah aku beresin tinggal masukin.”
“Oh, iya.” Kemudian Riqi sibuk beralih merapikan buku bukunya.
“Qi, ayolah. Aku sudah rapikan semua. Ayo makan dulu.” Dara menyeret tangan Riqi

Tanpa sengaja ada beberapa lembar kertas berjatuhan dari selipan buku yang dipegang Riqi.

“Tuh kan Qi, berantakan lagi. Kamu itu ya....” Tiba tiba ucapan Dara tercekat ketika membereskan kertas yang berjatuhan itu dan membacanya.
“Qi, kamu....” Raut wajah Dara penuh tanya.
“Ra, kamu rela aku pergi ke luar negeri? Kamu nggak berat aku pergi kesana? Kita udah sama sama lama banget Ra. Kamu nggak merasa kalau aku, kalau aku....”

Seketika hening

“Aku sayang kamu Ra...bukan sebagai sahabat.”

Lalu waktu terasa terhenti dan mereka tersekap pada degup jantung masing masing.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Terlambat Menyelematkan Hati

Terlambat Menyelematkan Hati

“Maaf, aku minta maaf...” Angin masih berderu dan mendung mulai mengangkasa.
“Minta maaf dan memaafkan itu mudah tapi melupakannya yang susah.” Kau masih dengan muka yang dingin.
“Lalu, bagaimana selanjutnya?” Nada bicaraku mulai menurun dan terdengar sedikit memelas.
“Bagaimana? Aku juga nggak tahu.” Lalu kau diam, angin mulai berhembus tapi bagiku udaranya menyesakkan.

Kita masih diam saja di sebuah balkon yang pandangannya mampu menembus angkasa sedang penyeselanku tak mampu menembus kesempatan untukku. Kemudian kau menjabarkan bagaimana sikap tak menyenangkanku melukai hatimu. Sebenarnya ingin kusangkali bahwa apa yang kau utarakan adalah yang tak kau tahu dibalik itu semua. Namun percuma saja, aku adalah yang selalu tak mampu berkata kata sepenuhnya ketika bersamamu. Rasanya cukup dan nyaman aku berada di sisimu meski tanpa saling berbicara.

“Baiklah, aku memang salah. Aku terlambat mengetahui kesalahanku sebelum kau jabarkan semua.” Akhirnya aku menyerah, aku mengaku kalah. Tapi aku tak ingin hubunganku dengannya jadi pasrah. Aku masih ingin memperbaiki semuanya.
“Lalu?”
“Kalau kau memang ingin menyudahi segalanya aku terima.”
“Sebenarnya aku....”
“Hey sayang, masih lama ya?”

Aku terkejut melihat sosok perempuan yang tak asing lagi bagiku.

“Eh, iya. Maaf.” Pandangan yang dingin dan menusukku berubah sekejap ketika melihat perempuan itu, begitu teduh. Sama saat kau menatapku waktu pertama kali kita bertemu.
“Masih lama ya?” Perempuan itu menggelayut di lenganmu, seketika itu pula hatiku remuk.
“Maaf Dar, aku balikan sama dia. Kita sudahi saja ya.” Kau tak menunggu jawabanku dan begitu saja berlalu meninggalkanku beku.

Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi di depan mataku. Jadi selama ini dia telah kembali pada pelukan mantan kekasihnya. Ternyata bukan hanya terlambat mengetahui kesalahanku tapi aku juga terlambat menyelamatkan hatiku darimu yang hanya seorang penipu.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Maafkan Keterlambatanku

Maafkan Keterlambatanku

Untukmu,

Hay, apa kabar kau (nanti) ? Bukankah pada setiap surat selalu menanyakan bagaimana kabar? Mengapa kutulis nanti? Karena aku tak akan pernah lagi tahu kabarmu setiap hari. Ya, aku pun baru saja mampu menulis surat untukmu saat ini karena sebelum ini ada gejolak batin dan pikiran bahkan aku tak terdaftar seperti pengirim surat cinta lainnya. Mungkin aku selundupan, tapi apapunlah itu yang penting aku ingin menuliskan surat untukmu.

Kekasih, (apa masih boleh aku menyebutmu kekasih?) malam ini saat hati yang dulu jatuh karena cinta telah jatuh lagi dan kini ia patah. Ya, maafkan untuk keterlambatanku. Keterlambatan untuk memahamimu, keterlambatan untuk mengetahui kesalahanku yang terlampau menyakiti hatimu, dan maafkan untuk segala apa apa yang belum bisa aku berikan padamu. Aku tak mampu melerai perasaanku sendiri. Kali ini pada musim yang sama segala bahagia yang pernah ada perlahan sirna bersamaan dengan lara yang menyeruak masuk dalam duka. Oh, kekasih biarkan aku lancang mencintaimu kembali sekalipun kau sudah tak sudi peduli. Maafkan jika tanpa sadar aku melukaimu dengan diam dan bungkamku itu.

Aku akan memberitahumu, surat ini sangat berantakan sekali. Berulang kali aku menghapus banyak kalimat, sering sekali aku tertegun beberapa detik untuk mengingkari apa yang telah terjadi, dan aku masih berani menguraimu dalam hati ketika garis merah di hatimu telah aku langgar kemudian usai sudah segalanya.

Malam ini lagu dari Bruno Mars yang dicover oleh Boyce Avenue ft. Fifth Harmony kuputar berkali kali. Lagu ini berjudul “When I was Your Man” ah, mungkin yang tepat untukku adalah “When I was Your Girl”. Memang tak sepenuhnya lirik di lagu itu menggambarkan bagaimana kita tapi ada beberapa lirik yang membuatku ditampar nestapa. Hingga di jalanan yang basah oleh guyuran hujan akhirnya tangisku pecah juga padahal dengan sekuat tenaga kutahankan bulir bulir air mata dan meyakinkan diri bahwa aku kuat menghadapi ini. Masih banyak sesungguhnya yang ingin kuutarakan padamu melalui surat ini namun....ah, sudahlah cukup sekilas saja nanti kau muak jika terlalu banyak membaca tulisanku yang tak beraturan ini.

Kekasih, maaf jika surat ini nanti hanya sampai padamu berupa doa dengan alamat bertulis namamu.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Maafkan Kebungkamanku

Maafkan Kebungkamanku

Sore ini jalanan basah terguyur air angkasa yang memendungkan awan. Aku tak kuasa menahan sesak di dada, sudah berulang kali aku meyakinkan diri bahwa aku baik baik saja dengan keadaan ini tapi perasaan yang kemalut ini tak mampu menyangkali.

"Ris, pakai jas hujan ta?" Kartika di depan kemudi sepeda motor
"Ris!"

Mataku yang memanas lalu terkesiap

"Kenapa?" Tanyaku pada Kartika
"Hujan nih pakai jas hujan ta?" Kartika sedikit mengeraskan suaranya.
"Iya udah." Aku hanya menjawab singkat.

Mungkin kepalaku perlu diguyur hujan sebab penat semakin membabi buta, liburan di kota yang mampu memberi kesejukan nyatanya tak mampu mengusir pikiranku atas dirimu. Seharusnya aku juga membiarkan badanku hujan hujan lalu kutadah air angkasa itu di kelopak mataku yang terbuka agar tak semakin memanas atau hanya sekadar menyembunyikan tangis yang
mungkin sewaktu waktu pecah diperjalanan.

"Ini gimana tasnya?" Kartika sibuk meletakkan tas tas ke trotoar tempat kita menepi.
"Kamu pakai jas hujannya dulu aja." Aku memberikan jas hujan yang sudah siap pakai kepada Kartika kemudian dengan pikiran buyar aku membenahi tas tas yang kami bawa saat liburan. Untung saja tas tas itu tak ikut berantakan.
"Udah ya, naik gih." Kartika sudah berada di depan kemudi kembali.

Aku bergegas naik ke sepeda motor dengan tas dipunggungku dan dua tas selempang salah satunya berisi kamera SLR. Bajuku sudah mulai basah sebenarnya namun aku acuh saja. Kartika mengemudi dengan cukup kencang meski aspal tak semuanya mulus, pun licin oleh air hujan. Mungkin tak semulus perasaanku pula kepadamu kekasihku dan licin sekali rasanya mengerti jalan pikiranmu. Aku tak paham sampai saat ini mengapa kita berdua diam. Pesan yang kukirimkan padamu seakan abai saja bagimu. Entah kau sibuk atau memang tak ingin membalasnya. Seorang sahabat menyarankanku untuk meneleponmu. Kekasihku, aku tak seberani itu. Mendengar suaramu? Bahkan menatap mata yang teduh itu segalanya seakan luruh. Bagaimana jika nanti aku tak sanggup berbicara di ujung telepon? Bagaimana nanti kau menolak panggilanku dengan berdalih 'nanti saja' atau 'aku masih sibuk'?  Lebih baik kau mereject telponku saja kalau begitu.
Kekasihku, aku tak memilik banyak upaya untuk mencintaimu. Mampu menyayangi seorang lelaki sekali lagi pun sudah anugerah bagiku setelah sekian lama hatiku beku oleh trauma masa lalu. Mengenalmu sudah menjadi kebahagiaan yang tak terhingga dalam hidupku apalagi aku bisa mendengar kau bercerita tentang hidupmu, berbagi tawa bersama. Aku terlampau beruntung mungkin, Tuhan sungguh baik padaku aku sangat bersyukur.

Apakah kau sedang membalas kebungkamanku waktu itu? Aku diam tak berkata sedikit pun di perjalanan menuju pulang bersamamu. Bahkan berpaling tak menoleh padamu yang sedang mengemudi.

Sampailah aku pada pengantaranmu waktu itu, aku melihat dari sudut mataku kau seperti enggan berbicara kepadaku. Tak ada ucap perpisahan yang hangat malam itu, tak seperti biasanya kita saling melepas dalam senyuman. Kala itu terasa begitu hambar dan cukup menyakitkan untukku.

Maafkan aku kekasihku, aku pun tak mengerti mengapa aku senang sekali mememdam apa apa yang kurasa dan memilih diam saja sampai mimpi melahap habis perasaanku itu dan akhirnya aku terlupa dengan sendirinya. Maafkan aku kekasihku, aku tak bermaksud membuatmu tak nyaman.

"Ris, udah nggak hujan. Kamu buka aja jas hujannya." Renunganku buyar dari balik jas hujan yang mengkungkungku dalam pengan dan kenangan bersamamu yang singkat. Lalu aku menyingkap jas hujan. Aku lihat jalanan masih basah, di samping kanan kiri berulang kali ada bayanganmu muncul dimana mana. Bahkan warna mobilmu kuning pastel itu tercat mirip pada beberapa mobil yang kutemui. Oh kekasihku, aku semakin tersiksa dengan ini semua. Ingin rasanya aku menangis dan berteriak saat itu juga.

Aku berharap setelah sampai di rumah kau membalas pesanku, aku masih menunggumu. Namun tak ada sedikit pun kabar darimu. Apa yang kalian rasa ketika balasan dari orang yang kau sayang tak juga dibalas? Padahal kalian merasa sudah menyibukkan diri melumatkan waktu.Berkali kali menengok BB saat Lednya menyala dan sangat berharap bahwa itu adalah balasan dari orang yang kau sayang. Lalu kau menghempaskan BBmu begitu saja ketika pesan yang kalian terima bukan darinya. Aku seakan dipermainkan bunyi ringtone yang bukan dari kamu. Kekasihku, aku rindu.

Kekasihku, maafkan aku atas segala kebungkamanku, harusnya aku berusaha lebih keras untuk tak diam saja saat bersamamu. Aku mohon maafkan kebungkamanku. Berilah aku sedikit kabarmu atau kau ingin memaki atau memarahiku sejadi jadinya karena sikapku. Silakan kekasih, apapun itu balaslah pesanku. Robek saling diam diantara kita. Maafkan kebungkamanku kasih.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Album Hitam

Album Hitam

Aku masih memandangi deretan album hitam di tanganku. Tidak, bukan album kematian, bukan album yang menyeramkan meskipun covernya berwarna hitam. Namun album ini adalah album penuh kenangan bersama seseorang yang kini entah dimana keberadaannya.

“Dhar, kamu itu kebiasaan deh fotoin aku tanpa bilang bilang dulu.”

Dia masih asyik dengan kameranya itu, lensanya diputar putar berulang kali untuk mendapatkan fokus paling bagus. Aku tak mengerti mengapa ia senang sekali memotretku dengan tiba tiba seperti itu, jangankan berpose atau tersenyum ketika dia memotretku, menoleh pun aku tak mampu. Dia sangat lihai sekali dengan salah satu tombol yang begitu cepat saat membidik, hanya sekali klik.

“Yang natural lebih maksimal.”

Begitu katamu berulang kali ketika aku mengomel kepadamu karena dia memotretku dengan seenaknya sendiri. Terkadang aku heran, mengapa ia menjadikanku objek kameranya padahal aku tahu benar seleranya adalah memotret pemandangan alam ataupun benda benda mati yang tak bergerak. Apakah aku termasuk benda mati menurutnya?

Segerombolan tanya masih saja berkeliaran di pikiranku tentang alasan mengapa kau pergi dengan tiba tiba, bersamaan dengan itu aku kenangan waktu kita bersama juga terbersit begitu jelas diingatanku. Bukankah kepergian dariku tidak termasuk ke dalam cita cita besarmu itu Dhar? Tanya masih saja tak menemukan jawaban dan aku masih sibuk membuka halaman demi halaman album hitam yang kau sembunyikan di almarimu. Maaf jika aku lancang membukanya, namun mamamu dengan sengaja memberikan album hitam ini padaku. Dan saat ini album hitam di tanganku ini menjadi saksi bisu kenyataan yang kau sembunyikan pula dariku bertahun tahun.

Sebuah foto ketika aku tertidur di rumah sakit dengan sebuah note “Cepat sembuh peri kecilku, jangan pernah sakit lagi ya.” Halaman berikutnya ada fotoku yang asik mengupas kentang saat memasak dengan mamamu untuk makan malam di hari ulang tahunmu dengan note “Peri kecilku sedang memasak untuk pesta sederhana di ulang tahunku, aku berharap kelak masakannya yang selalu menjadi makananku.” Masih banyak foto foto yang tak ku ketahui kapan kau mengambilnya dan semuanya tentang aku. Dhar, apa sebenarnya ini?

Dan salah satu yang membuatku memecahkan tangis di kelopak mataku. Fotoku bersamamu ketika kita wisuda dan di sebelahnya terdapat gambar bunga sakura, aku mengambil foto itu dengan isak tanpa suara. Ternyata di baliknya kau tertulis kalimat, “Berbahagialah di negeri sakura peri kecilku, maaf jika selama ini aku terlampau selalu ingin bersamamu. Iya, aku hanya ingin kau tahu bahwa kau adalah yang berharga untukku” Aku tersedu, Dharma sahabatku nyatanya telah memendam rasa cinta padaku selama itu. Sedang kepulanganku kembali adalah untuk menyalami kepergiannya dari sisiku. Sesungguhnya aku pun ingin selalu bersamamu.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Lara Dira

Lara Dira

Angkasa masih sangat  pekat, meski belum legam namun gelagar guntur masih bersahutan. Sama halnya seperti hatiku yang kini disambar sambar sayatan kata katanya beberapa detik lalu.

“Apa yang harus kita lakukan lagi Bim? Kita sudah tak sanggup bertahan. Sudah berapa lama kita kukuh dengan hubungan ini? Tapi nyatanya apa? Sama saja kan? Tak berguna!”

Pertanyaanmu penuh retori Dir, aku masih tak sanggup mencerna apa apa saat itu. Waktu terasa begitu membeku meski hujan yang mengguyurku adalah liquid yang membuatku basah. Ya, basah pula seperti mataku yang kau tak tahu karena air hujan telah menyamarkannya. Setelah itu kelebat memori tentang kita berdua selama dua tahun lalu bagai potongan film yang kini kasetnya kau injak injak tanpa kumengerti mengapa harus jadi begini?

“Cukup Bim, jauhi aku mulai detik ini. Jangan paksakan kita untuk bersama lagi. Sudah cukup aku dibantai sakit hati oleh orang orang yang menyayangimu. Pergilah Bim.”

Kemudian masih terpaku di jalanan beraspal yang mulai penuh genangan air, dengan payung putih beningmu kau perlahan pergi menjuhiku Dir. Baju yang kukenakan sebagian telah basah meskipun aku terlindungi oleh payung hitam pemberianmu dulu setahun silam ketika ayahmu terpaksa dipanggil Tuhan. Kau menitipkannya untukku tanpa pernyataan, yang aku tahu kau terlampau kehilangan waktu itu. Namun kau berkata bahwa di sampingku kau selalu merasakan bahagia. Lalu, benarkah yang kau ucapkan kala itu Dir? Benarkah kau bahagia bersamaku? Benarkah jika dipelukku kau merasa damai seperti ketika kau bersedih ketika kau kehilangan banyak hal dalam hidupmu, ketika bunda yang kau sayangi menyusul ayahmu di surga? Benarkah demikian? Lalu mengapa kini kau melangkah pergi, memintaku untuk mengakhiri ini semua? Oh Dir, jangan tampar aku dengan kebisuanmu, aku tahu kau banyak terluka dan di balik pengucapanmu tadi kau penuh dusta.

*****

Aku masih terpekur sama seperti beberapa bulan kau meninggalkanku di angakasa yang menangis pilu ketika genggaman surat cream ini berada di tanganku. Tak dapat kubendung lagi mataku yang tergenang air mata haru, sedih, dan penyesalan yang menggebu. Kemudian aku tersungkur tiba tiba oleh kenyataan yang sungguh pahit bagimu.

Dear Bima,

Tak perlu kau bersedih ketika aku meninggalkanmu, ketika aku memintamu untuk pergi dari hidupku. Cukuplah kau ikut menanggung kesedihanku yang bertalu talu itu, kau harus bahagia Bim. Jangan percaya jika aku tak mencintaimu lagi, jangan percaya jika aku tak menyayangimu lagi. Aku tak mau kau ikut terluka Bim, biar aku sendiri saja yang merasakan. Benar kata mereka jika aku hanyalah gadis penanggung dosa yang menjadi benalumu, selalu di sisimu. Maafkan aku Bim, hanya memberikan kisah kisah haru di hidupmu. Kau harus harus bahagia bersama mereka orang orang yang menyayangimu lebih dari aku. Tak perlu khawatir, aku akan baik baik saja. Nampaknya aku harus menyusul ayah bundaku di surga. Kau harus bahagia Bim.
I love You,
Dira

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Tersingkapnya Kebungkaman Nayla

Tersingkapnya Kebungkaman Nayla

Gadis itu masih tertegun di tepi danau yang tenang, di balik pekarangan milik pamannya. Ia nampak begitu tenang pula masih dengan balutan selendang di kepalanya, menutupi setiap helai rambutnya namun samar samar mampu kulihat legam warna di balik selendang putih susu itu. Aku belum mengerti apa yang sedang ia pikirkan disana. Aku tak kuasa mendekat, hanya mampu memerhatikannya dari kejauhan. Sudah beberapa kali aku tak menyambangi danau ini, tak duduk di tepian danau dan kayu lapuk yang bertengger dengan tenang disana. Walau begitu kayu lapuknya masih mampu menampung berat badanku dengan nyaman.

Ya, semenjak gadis yang selalu berselendang itu menyinggahi tempat semediku. Aku hanya diam saja tak berontak karena dia telah merebut tempat yang selama ini kujadikan persembunyian dari kejaran pikiran yang riuh rendah. Mungkin karena guratan di wajahnya mengisyaratkan sendu dan pilu yang begitu mendalam. Aku pun heran, mengapa tak ada sanak keluarganya yang datang untuk sekadar menyapanya jika danau ini dekat sekali dengan pekarangan milik pamannya. Darimana aku tahu? Karena paman gadis ini adalah teman ayahku, aku mengetahuinya pun dari pamannya sendiri. Pernah sekali aku melihatnya berjalan masuk di ruang tamu pamannya, sekilas ia memang seperti gadis yang sangat tertutup. Mungkin ia perempuan yang mampu menyembunyikan banyak tanya di pikirannya dengan tabah menyimpannya tanpa memiliki jawaban.

Baru sepersekian detik aku akan meninggalkan tempatku memerhatikannya, aku mendengar sedikit isak disana. Apakah gadis itu menangis? Aku lamat lamat mendengarkannya lagi dengan seksama. Iya, dia sedang menangis. Kemudian ia berdiri, aku semakin menyembunyikan diri di balik pohon mahoni agar keberadaanku tak pernah ia ketahui. Tapi ingin rasanya aku menghampiri. Sekadar untuk menenangkannya atau mengetahui siapa namanya. Aku telah mengagumi bagaimana caranya diam dan bungkam.

Dia tak lagi duduk di kayu lapuk di tepian danau, ia semakin mendekat pada danau yang tak beraliran itu. Ada debar pada jantungku yang tercipta ketika bagian bawah bajunya telah basah ditelan air danau tak beriak itu. Apa yang akan ia lakukan? Ia semakin menenggelamkan diri di tenangnya air danau itu, aku tak mampu bergerak dari tempatku bersembunyi. Aku tercengang sendiri. Hingga ketika selendangnya terlepas dari kepalanya lalu geraian rambutnya yang legam mengapung di permukaan air danau dan lehernya semakin tenggelam seakan membiarkan air danau yang dingin itu mencekiknya. Aku tak mampu menahan diri lagi, aku harus bergegas menariknya kembali ke daratan.

Aku melangkahkan kaki dengan cepat, gemerisik dedaunan yang kupijak tak ku pedulikan. Biar saja jika ia mengetahui bahwa selama ini aku memerhatikannya dari jauh. Aku hendak mencapai bibir danau itu hingga tiba tiba...

“Nay, apa yang kau lakukan?”

Sesosok dari arah pekarangan menceburkan dirinya ke dalam danau itu, menyebabkan gelombang pada danau yang tenang itu. Kakiku tersekat di pijakan terakhir. Siapakah dia? Nampaknya seorang laki laki. Ia menarik gadis yang mungkin bernama Nay itu ke daratan.

“Biar saja, lebih baik Nay tenggelam di air danau ini daripada Nay harus tenggelam dalam kenangan dan kesedihan semacam ini.” Gadis itu berontak dari pelukan laki laki yang menyelamatkannya.
“Sadarlah Nay, jangan kau berkabung selarut ini.”
“Kau bicara apa? Mengapa kau datang saat ini? Kemana saja kau selama aku bersedih? Aku sudah tak tahan ditekan keangkuhan.”
“Aku kembali untukmu Nay, untuk Naylaku yang katanya akan membangun semesta sendiri di kehidupan kita.”

Aku semakin tertegun dengan perdebatan diantara kedua muda mudi yang rupanya telah patah hati sebelum ini.

“Sudah cukup aku terkekang sunyi dengan keangkuhan keluargamu dan keluargaku sendiri. Aku bukan yang kau ingini. Sudah cukup jalankan sandiwara penuh dusta ini. Cukup!!!!.”

Gadis bernama Nayla itu berteriak, cukup mengusik burung burung yang sedang beristirah senja kala itu. Lalu seketika laki laki yang tadi mendekapnya terjatuh pada tanah basah, gadis bernama Nayla itu bertemu dengan pandangku. Sorot matanya nampak geram seakan ada api di matanya yang menyala-nyala. Aku tersenyum masam dan akhrinya memilih pasrah

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Sederhana Saja

Sederhana Saja

“Kamu harus hepi dong.”
“Aku hepi punya kamu.”
“Kamu hepi kan?”
“Aku hepi...”

Kata kata itu yang selalu aku dapatkan dari setiap perbincangan kita dan kini sangat melekat dalam detik kehidupanku. Aku baru mengenalmu sebulan yang lalu, baru seminggu awal perkenalan kita lalu dengan cepat dan tepat kita sama sama menjatuhkan hati. Ya, kita berdua sedang kasmaran. Jatuh cinta.

Ah, meski sesingkat itu aku mungkin telah mampu merangkum hal hal sederhana yang kau lakukan. Kau selalu membeli air mineral jika kita sedang makan bersama, kau selalu haru ketika apa apa mengisahkan tentang mamamu, satu lagi yang aku ingat kau selalu memanggilku “Poni” karena dahiku selalu tertutupi olehnya.

“Mas Betmen”

Panggilan kesayanganku untukmu, sungguh lucu memang mendengarkan ceritamu tentang obsesimu semasa kecil ingin menjadi seorang betmen yang menjadi pahlawan bagi yang kusasahan. Aku pikir kau memang sudah melakukannya saat ini. Kau telah menjadi inspirasi bagi banyak orang kini.

Ah, aku juga ingat kau gemar sekali mendengarkan lagu lagu dari Payung Teduh dan salah satu penyanyi pujaanmu dulu Astrid yang sempat membuatku cemburu. Kemudian satu lagi yang membuatku terdiam seribu bahasa dan tak tak pernah tertinggal saat kau bersamaku yaitu kalimat “I love you” yang kau ucapkan dengan tiba tiba di hadapanku. Kau selalu mengutarakannya walau aku tak pernah membalasnya dengan kalimat “I love you too”. Tak perlu khawatir sayang, aku masih dengan seksama mencatat dalam memori bagaimana hal hal kecil yang kau lakukan. Sederhana saja, kita memang saling mencintai.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Cahaya

Cahaya

“Aku nggak mau Rin.” Aku masih saja bersikeras berbaring di balik selimutku.
“Kenapa sih kamu itu Ca? Sudah dandan cantik juga.”
“Tapi aku malu.”
“Malu kenapa? Malu karena ada Stella dan teman-temannya diluar? Kamu kan datang di acara ulang tahun Dandi karena dia yang mengundang kamu datang ke pestanya.”
“Kalau untuk datang di pestanya aku nggak masalah Rin tapi kalau untuk...”
“Apa? Untuk nyanyi di depan umum kamu malu? Dandi sudah pernah bilang berapa kali sih ke kamu kalau dia itu paling kukuh mendukungmu, mengembangkan bakatmu, bahkan dia bersedia menjadi pengiringmu bermain gitar.” Karin terus saja mengomel

Aku hampir menangis dibuat takut sendiri oleh rasa minderku. Aku memang bukan gadis populer di sekolah seperti Stella dan teman temannya. Bahkan aku termasuk cewek kuper yang nerd banget tapi ketika Dandi menemukanku bernyanyi di sudut lorong sekolah ketika aku mengisi mading dia langsung menarikku ikut dalam bandnya. Tahu sendiri? Aku pasti menolaknya.

“Suaramu merdu Ca, ada karakter di suaramu itu. Kamu berbakat dalam bidang vokal.”

Begitu kata Dandi beberapa waktu lalu, hingga aku memberanikan diri mengikuti ekstrakulikuler grup vokal di sekolah namun apa yang aku dapat. Ejekan dan olokan dari Stella dan teman-temannya yang sama sama mengikuti ekstrakuler grup vokal. Akhirnya karena aku tak tahan terus di bully mereka, aku mengundurkan diri. Hanya Karin dan keluargaku saja yang mengetahui bahwa aku memiliki hobi menyanyi dan bermain musik. Aku sering memainkan piano kesayanganku di rumah sambil bernyanyi namun aku tak pernah mau memublikasikannya.

Pada akhirnya rasa minder mengalahkan aku untuk tidak datang ke ulang tahun Dandi. Karin marah besar padaku karena sikap maluku yang terlanjur keras kepala. Ia tak menyapaku di sekolah bahkan Dandi juga tak berpaling muka padaku ketika kami berpapasan. Oh Tuhan...begitu bodohnya aku.

Ketika istirahat aku duduk diam di sudut sekolah, ingin rasanya menangis. Apalagi radio sekolah sedang memutarkan lagu lagu mellow siang hari yang mendung begini, lengkap sudah kegalauanku.

“Ya, sebuah rekaman dari salah seorang kawan kita akan spesial kami putarkan mengisi sendu siang ini. Tapi jangan galau ya kawan-kawan.”

Terdengar suara pembawa radio di sekolah kemudian alunan musik merdu. Rupanya alat musik piano, lamat lamat aku terkejut bahwa sepersekian detik kemudian aku menyadari bahwa itu adalah laguku dan aku yang menyanyikannya. Aku sungguh terkejut bukan kepalang. Aku berlari menuju ruang radio sekolah. Lalu apa yang kutemukan?

“Hay Ca, selamat ulang tahun ya...”

Dandi dengan kue tart di tangannya bersama Karin dan beberapa guru menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku. Apa ini Tuhan? Bahkan aku sendiri lupa dengan ulang tahunku.

“Jahat kamu Ca, nggak datang di ulang tahunku. Sebagai gantinya kamu harus ikut mewakili sekolah mengikuti ajang penyanyi solo pada perlombaan bulan depan. Saatnya kamu bersinar Cahaya Asya Regita.”

Sunggingan senyum ketulusan dari seorang Dandi membuatku luluh setengah mati. Harusnya aku leburkan pula rasa malu dalam diri. Karin memelukku dan meminta maaf telah marah padaku, kita pun menangis haru.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Pelukan Rindu

Pelukan Rindu

Masih ada kemelut hati selarut ini, aku pikir dengan detakan jam menuju pukul dua belas malam ini akan mampu melunturkan segala apa apa yang aku rasakan semenjak pagi tadi. Aku seduh cokelat panas supaya menenangkan hati, nyatanya tak mampu jua melerai hati dan pikiran yang saling adu persepsi. Aku bingung sendiri, manakah yang harus aku jalani?

“Ren, kamu kenapa sih? Gelisah banget gitu.”
“Aku? Emm...nggak kenapa kenapa kok.”
“Nggak kenapa kenapa tapi mondar mandir terus. Tumbenan sih hari ini kayak gitu. Padahal kan kamu biasanya duduk manis baca novel.”
“Pengen cari suasana beda aja.”
“Cari suasana beda kok mukanya suntuk gitu.”

Aku masih saja melangkahkan kaki, melaju tak henti namun tanpa tujuan. Tak peduli dengan ocehan Gina. Aku menengok sesekali pada jalanan setapak menuju kamar nomor 108 itu. Pantai di hadapanku masih juga sama deru ombaknya pun deru di jantungku yang makin lama makin risau. Hanya lampu beberapa saja yang masih menyala, lautan hanya terlihat legam dimakan malam. Pintu kamar itu belum terbuka juga tapi masih saja ada rasa bersalah yang tak kuduga-duga. Aku ingat betul bagaimana pertengkaran itu terjadi. Pertengkaran hebat yang terjadi setahun lalu. Kini dia kembali dengan kalimat yang mengoyak hatiku.

“Aku sayang kamu Ren.”
“Sayang aku? Kamu ngomong apa’an sih?”
“Ya mungkin ini terdengar aneh atau mengherankan bagimu tapi jujur aku memang sayang kamu.”

Aku hanya diam mendengar pengakuan Yuka senja itu, aku hanya bungkam saja. Namun dalam hati aku keluh, mengapa ia begitu memerlakukan aku seperti itu. Setelah sekian lama aku menelantarkan apa apa yang pernah ia rasa, mencaci maki apa apa yang ia lakukan. Aku tak gentar memertahankan hasutan Guntur. Memertahankan rasa sayangku pada lelaki yang kini mencabik-cabik hatiku.

Perenungan malam ini belum berakhir. Tiba-tiba ada sesak yang menyeruak ketika tak nampak benda langit yang muncul di angkasa. Aku masih menyangkali, kadang merutuki mengapa aku bertemu dengan Yuka kembali pada liburan tahun baru kali ini. Apalagi kalimat sayang yang ia lontarkan sungguh membuatku tak mengerti, masih saja ada sudi baginya untuk mengenalku. Sudah kusesali berkali-kali namun berhasil aku ingkari sendiri.

Pesta kembang api akan dimulai beberapa menit lagi dan aku masih jalan jalan sendiri di pinggiran pantai dengan bagian paling sepi. Jejak kakiku di pasir pantai ini tak terelak lagi. Aku ingin pergi saja menyongsong lautan, tenggelam disana bersama apa apa yang kurasa. Aku tak mampu menampik sosok Yuka lagi.

“Hey, kamu ngapain? Ren kembali.”

Yang kudengar hanya deburan ombak.

“Kamu mau kemana Ren, berbalik. Kamu mau renang malam-malam gini di lautan?”

Kini yang kulihat hanya buih ombak

“Ren, Karen....”

Semakin sesak saja dadaku, semakin pening rasanya kepalaku, ingin segera menjemput maut. Ada percikan air laut yang singgah di lidahku

“Karen....”

Suara itu semakin dekat, aku merasakan ada tubuh yang tak berjarak lagi di punggungku.

“Kamu mau ngapain sih?”

Aku mendengar sedikit isak, sedang badanku telah kuyup diguyur air laut.

“Apa yang kamu pikirkan sampai menantang lautan malam-malam begini.”

Aku membalikkan tubuhku, wajah Yuka kini yang kulihat pertama kali ketika aku tersadar dari gentingnya hati. Ketika pesta kembang api telah menggelegar di sudut sudut pantai ini. Aku menghambur di peluknya, aku tak mampu lagi menahan diri. Jikalau hatiku pun teramat sangat merindukannya.

Kemudian akulah yang paling ingkar
Menyangkali debar
Debar rindu yang tak karuan
Menampari diri tanpa enggan
Mungkin tak ada yang tak wajar
Karena aroma kasih pun telah sebar
Aku biarkan kau merengkuhku kembali
Pelukan memang menjadi pengobat angkara paling dengki

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Kepulangan Kalista

Kepulangan Kalista

Ada yang mengetuk pintu tiap malamnya, tiap kesendirian menghantarkan selimut dingin tanpa pernah kupinta. Sedang lamunan merongrong di pikiranku, aku pikir siapa saja yang mengetuk pintu itu adalah apa apa yang mampu menghempaskan kesendirianku punah. Nyatanya ia yang membuatku semakin lekat dengan kesunyian. Aku menyebutnya kerinduan. Ya, bukan sekadar nyanyian dalam lirik-lirik lagu masa kini yang kurasa sungguh tak patut dibanggakan. Aku tidak setenar lirik-lirik itu memang, tapi aku tak peduli. Aku masih berontak dengan lirik-lirik tak menarik untuk dilirik. Barangkali lantunan nada-nada, semisal dawai gitar atau tuts tuts piano yang mengiring lirik-lirik tak penting itu, mampu membuat berontakku terenyuh.

“Ren, sudah kau siapkan semua perlengkapan kita besok?”
“Sudah kak, ini aku masih benahin proposal yang harus kita kumpulkan.”
“Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu ya. Sudah gerah, aku mau keluar ke cafe selasai mandi. Kau mau ikut?”
“Ah, tak usah kak. Aku disini sajalah.”
“Tak makan kau?”
“Nanti aku goreng telur saja.”
“Kau itu senang sekali mengkonsumsi telur begitu. Sekali-sekali makanlah kau yang enak-enak. Aku bungkuskan nanti ya.”
“Tak perlu kak.”

Setelah itu hanya senyuman yang tersungging di bibirku ketika Kalista pergi meninggalkanku di kamar yang kita sewa bersama semenjak kita dipertemukan oleh tugas perkuliahan yang sama. Kalista seorang gadis keturunan Batak, marganya Sinaga. Dia anak orang kaya yang gemar sekali pesta pora, pernah sekali aku diajak bergabung pada pestanya di sebuah club yang hiruk pikuknya tak wajar menurutku. Aku bukan gadis desa yang kuper atau gaptek. Hanya saja aku lebih suka dengan tempat-tempat yang tenang tanpa asap rokok. Namun meski begitu dia seorang yang senang menolong, aku salut padanya karena mampu menjaga diri walau kehidupan malamnya sungguh tak pernah absen setiap harinya. Aku pikir uangnya yang berjuta-juta itu turut andil dalam misi penjagaan dirinya.

Kadang aku berpikir, apakah Kalista tak pernah diketuk kesepian di hati? Karena setiap hari ada saja kawan-kawannya yang silih berganti menemuinya dengan berbagai urusan. Setiap waktu tertawa tebahak-bahak, menertawakan apa-apa yang terkadang tak perlu juga untuk ditertawakan. Aku pikir Kalista tak sesunyi aku atau tak semerana aku yang seringkali melamun di balik jendela yang basah oleh rinai hujan.

****

“Ren, Rena sayang...Kamu tahu aku bahagia dengan dunia ini, tapi mengapa ia menertawakan aku dengan begitu sinis?”

Aku sempoyongan membopong tubuh Kalista yang limbung masuk ke dalam kamar. Mataku masih terbeban kantuk pula karena tertidur di tumpukan kertas yang harus kubereskan segera.

“Kau, ya Ren kau. Aku suka kamu, pendiam, tak banyak bicara. Tak seperti kawan-kawan aku itu.”

Aku melepas heelsnya, merebahkan tubuhnya yang semolek biola di ranjang. Bajunya masih bergemerlapan meski hanya lampu disamping ranjangnya saja yang menyala. Aku berusaha melepas ikatan di rambutnya yang ikal. Namun dengan keaadaan yang masih mabuk Kalista mampu menepis tanganku dan menggamit leherku dengan lengannya.

“Tolong aku Ren, aku muak dengan kehidupan. Tapi aku malas mati, aku belum siap mati, ha ha ha ha ha ha.”

Aroma beer. Kemudian ada segelegar guntur.

“Ha ha ha ha nampaknya semesta pun murka dengan kehidupan Ren ha ha ha.”

Aku masih tak mengerti dengan apa yang Kalista bicarakan, aku lepaskan perlahan gamitan lengannya yang mulai mengendur. Aku bergegas memberinya secangkir teh hangat yang mungkin akan menenangkan pikirannya.

“Kau baik Ren, aku tak habis pikir kenapa kau mampu bertahan sekamar denganku yang berengsek begini.”

Aku melihat Kalista telah lebih tenang, ia bersandar di tumpukan bantal. Aku membalurinya dengan minyak kayu putih, agar lebih hangat. Aku mengerti jika apa yang aku lakukan itu tak mampu menghangatkan dingin hatinya yang mulai membeku. Kalista yang suka cita berfoya-foya, malam ini nampaknya telah ditampar oleh batu batu es club malam. Aku mampu bertahan dengan Kalista karena ia tak pernah sekalipun mengusik kehidupanku, ia tak pernah menanyakan aku lebih senang diam atau memengaruhiku untuk terjerumus dalam dunianya. Aku paham jika itu semua bukan semata ia cuek saja, aku menganggap ia adalah orang tercepat yang mampu mengerti diamnya diriku. Dia mengerti kapan diamku adalah melamun, merenung, atau berpikir. Kalista yang cantik, apakah ada yang telah membuatmu sebegitu pelik?

“Ah, ternyata aku rindu kampung halaman Ren. Tiap kali kutengguk minuman itu, hatiku diketuk ketuk rasanya. Mungkin harusnya aku pulang sekarang.”

****

Kalista, aku tak menyangka jika hatimu pun nyatanya diketuk pula oleh kerinduan. Kerinduan akan kampung halaman, aku kira hanya aku yang paling sering diketuk oleh rindu yang kadang sangat kejam mendobrak. Pun kau sering dicekik oleh kenangan yang hampa. Aku sangat menyesal saat ini karena ketika bersamamu aku hanya senang menimang bungkam. Tak mau bertanya-tanya tentang dirimu. Namun jika aku boleh jujur Kalista, aku selalu memerhatikanmu. Memahami hal hal kecil yang kau lakukan ketika waktu meramu kita dalam kamar yang sama. Kau tak suka saat aku memanggangkan rotimu, atau menuangkan gula cair di cangkir kopimu. Aku tahu jika kau selalu senang menggunakan pensil dan membenci bolpoin bolpoin milikku untuk mengerjakan tugas-tugas kita dan kemudian akulah yang dengan senang hati menyalinkan tulisan indahmu dengan pensil itu tengah malam.

Aku menyesal Kalista, tak paham bagaimana kehidupanmu di masa lalu. Untuk mengenalmu masa kini saja aku tak mampu, sebenarnya banyak tanda tanya di benakku tentang dirimu tapi kau tahu sendiri kan aku lebih memilih bungkam. Maafkan aku Kalista, tak mampu menjadi teman sekamarmu yang mampu tahu saat kau diketuk rindu pun kenang masa lalu.

“Aku akan minta maaf ke mama papaku Ren, terima kasih kau telah menyadarkan aku.”

Kata-kata itu ia lontarkan saat sebelum mobilnya dilajukan menuju kampungnya di Batak. Aku tak mengerti mengapa ia berkata begitu, sampai akhirnya aku tahu. Dia membaca selembar puisiku yang berserakan bersama kertas kertas tugas saat akan pergi ke club malam.

Kak,
Pintu-pintu rindu di depan hatiku masih gemeretak
Mengetuk ingin mendobrak
Kak,
Aku tak mampu menghalangi apa yang datang di balik sana
Aku gugup bukan kepalang dibuatnya
Takut jika rindu yang bertamu
Khawatir jika kenang masa lalu yang menagih utangku
Hingga suatu sore hujan datang menyambangi jendelaku
Jendela di samping pintu yang masih diketuk ketuk itu
Ia mengguyurku segar
Sampai bergetar hatiku dibuatnya
Kak,
Kini aku sadar
Apapun yang mengetuk dibalik pintu itu
Aku harus mampu tenang
Karena aku masih di rumah, masih disambut pulang

Aku juga tak menyangka, jika ia mampu mencerna puisiku yang aku sendiri pun masih bingung memaknainya. Aku memang sering membubuhkan kata Kak di tiap puisiku akhir-akhir ini semenjak bersama Kalista. Kak adalah panggilanku kepada Kalista, dia tak pernah protes. Kalista sayang, maafkan aku. Aku tak mampu mengiringi kepergianmu pun tak mampu mengahantarkan kepulanganmu.

Lalu kutaburkan bunga mawar kecintaannya. Raganya mungkin telah remuk tertabrak besi besi jalanan pun akan mulai lapuk dimakan apa apa yang berada di tanah kuburan. Selamat menyambut kepulanganmu Kalista.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Cemburu

Cemburu

Masih ada belenggu ragu
Masih ada usikan masa lalu
Ini persoal kisahmu dulu
Bukan perihal aku yang dikurung sendu

“Udahlah Ren, kamu itu selalu aja negatif thinking soal Kak Amda.”
“Gimana nggak negatif thinking Nin, aku cuman berapa hari sih jadi pacarnya?”
“Nah, justru karena kamu baru jadian sama Kak Amda itu jangan berpikiran macem-macem dululah.”
“Oke, sekarang coba kamu jadi aku. Apa yang kamu lakuin?”
“Ya, aku bakal berpikiran positiflah.”
“Nggak semudah itu Nin.”

Karen menyodorkan layar laptopnya ke arah Hanin.

“Nih, lihat nih. Foto-fotonya Kak Amda sama mantannya.”
“Kan cuman foto Ren.”
“Cuman foto? Lihat tanggalnya!” Emosi Karen tiba-tiba naik cepat.
“Hey, hey apa sih? Kalian berdua ributin masalah apa sebenernya?”

Ria mencoba merangkul Karen dan menenangkan emosinya agar tak semakin pitam.

“Nih, lihat nih Ri. Kalau kamu jadi aku gimana? Kak Amda masih nyimpen foto-foto mantannya.”

Kini layar laptop beralih ke tatapan Ria.

“Wuih, itu mantannya?”
“Iya, kenapa? Aku kalah cantik ya?”
“Hey, apa sih kamu tuh Ren. Tenang dululah.”
“Lagian sih kamu, ngapain coba’ stalking akun Kak Amda kayak begini?” Hanin kembali menyambar.
“Apa salahnya sih Nin? Kak Amda kan sudah jadi orang penting dalam hidupku saat ini. Aku kan juga pengen tahu lebih tentang dia.”
“Tapi ya nggak sebegini juga kali’. Stalkingnya seksama banget.”
“Hhh...fotonya masih diambil tahun ini. Bulan Mei dan Agustus, baru juga ya berarti.” Ria mengamati foto-foto yang terpampang di layar laptop putih milik Karen.
“Sekarang kamu Ri, seandainya kamu jadi aku. Gimana perasaanmu kalau pacar kamu masih aja nyimpen foto mantannya. Berdua, mesra gitu lagi. Aaarrgghh...”
“Ya sakit hati sih. Apalagi fotonya berasa masih penuh cinta kayak gini.”
“Tuh kan tuh kan.” Karen menyibak-nyibakkan boneka, guling, bantal, buku, apapun yang dekat dengan dia. Sampai-sampai Hanin pun jadi sasaran amukan dadakannya Karen.
“Aduh Ren, ya woles woles...” Ria kembali menenangkan.
“Menurutmu kalau aku minta Kak Amda menghapus fotonya, apa aku masih bersikap kayak anak kecil?”
“Ya enggak sih, terus gimana mau lupa Kak Amdanya kalau masih ngesave foto-foto mereka kayak gini.” Hanin berceloteh dengan memainkan boneka minion yang ada di tangannya
“Nah itu tuh, kamu itu gimana sih Nin. Plin-plan banget anaknya, jadi aku yang salah karena masih baru pacaran sama Kak Amda atau Kak Amda yang masih sayang sama mantannya.” Karen mulai geregetan sendiri.
“Tunggu, dia putus sama mantannya kapan?” Ria mulai penasaran.
“Dia bilang tahun ini Ri. Tapi ya coba pikirin deh. Beberapa minggu sebelum kita jadian mereka masih mention-mention di twitter. Ya masa’ secepat itu Kak Amda move on nya. Pikirin deh.”
“Move on nggak selalu butuh waktu lama kan Ren.” Tiba-tiba Fifa yang sedaritadi tenggelam pada novel Sherlock Holmesnya buka suara juga.
“Tuh dengerin si Fifa, bener tuh kata Fifa. Kamu sih segitunya banget kalau mikir. Tapi ngomong-ngomong aku lama juga sih move on nya sampe’ sekarang masih stuck di nawi-nawi.

Karen langsung melirik sadis pada Hanin seakan-akan sorot matanya itu berkata

“Aku bunuh tau rasa’ kamu Nin Nin.”
“Terus kalian jadiannya kapan?” Tanya Ria
“Tanggal 17 November ini dan dia sama mantannya udah sekitar enam tahun pacaran bayangin coba’. Cepet banget noleh ke akunya”
“Baru ya berarti. Kamu nggak cerita ke Kak Amda soal ini?”
“Aku nggak langsung ngomong soal foto sih tapi aku tanya ke dia apa aku ini cuman pelariannya aja. Terus Kak Amda jelasin panjang lebar dan aku luluh seketika itu juga. Heran deh sama Kak Amda, pinter banget bikin hatiku tenang.”
“Gini Ren, kamu jalani dulu saja sama Kak Amda. Oke cemburu bolehlah tapi jangan berlebihan. Kamu boleh ingin tahu tentang Kak Amda, tentang mantannya, tentang keluarganya tapi jangan terburu-buru menafsirkan. Sekarang gini deh, Kak Amda memang sudah lama pacaran sama mantannya tapi kenyataanya sekarang begitu kan. Mereka putus terus Kak Amda milih kamu sekarang. Ya sudah, harusnya kamu bersyukur Kak Amda mau jelasin ke kamu, nenangin kamu kalau kamu memang bukan pelariannya dia. Jadi kamu sabar dulu, jalani sajalah. Kalian masih baru jadian juga kan.” Fifa berceramah panjang lebar. Baik Karen, Hanin, dan Ria sepertinya sama-sama telak oleh wejangan dari Fifa.

Semoga degup curiga ini perlahan pergi
Berharap was was dalam diri enyah sendiri
Kemudian cemas tak lagi meghantui
Bukankah aku pun punya masa lalu nan perih
Mungkin menjalani dengan kasih
Adalah cara termanis melenyapkan pedih

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Luruhkan Masa Lalu

Luruhkan Masa Lalu

Daun-daun kering di jalan setapak taman ini masih berserakan dimana-mana, ada angin yang sesekali mengajak mereka menepi di sisi pohon. Sore ini aku berjalan sendiri tanpa barang-barang yang selalu menggelayut di punggungku beserta isinya. Entahlah, aku hanya ingin menikmati taman kota yang rasanya tak sesepi ini ketika tiap pulang kuliah aku melewatinya. Aku mencari bangku taman yang kiranya mampu menopang segala pikiran yang berkecamuk seakan mencambuk-cambuk.

Masih daun gugur sebelum mengering
Sedang aku masih menunggu walau luka belum kering

“Aku sudah nggak bisa mertahanin hubungan kita Rin.”
“Tapi kenapa? Karena mama? Kenapa kamu nggak mau berjuang buat aku?”

Sayup-sayup kudengar percakapan sepasang kekasih yang menurut dugaanku sedang bertengkar. Namun aku masih sibuk dengan lamunanku sendiri kemudian.

Lalu, sampai saat ini pohon masih beranting
Sedangkan hatiku selalu genting

“Aku nggak suka diatur-atur begitu Rin, aku sudah beri banyak pengertian kan ke mamamu tapi tetap saja begitu.”

Aku mendengar isakan. Perempuan itu menangis.
Ya, selayaknya aku
Kau pergi bersama hembusan pilu

*****

“Mbak maaf, sekarang pukul berapa ya?”
“Tiga mas.” Aku menunjukkan jam tanganku kepada seseorang yang menanyaiku.
“Terima kasih mbak.”

Aku hanya tersenyum dan kembali melempar pandang pada jalan raya yang berulang kali bus dan angkutan kota lewat di depanku dan aku masih diam saja duduk di bangku halte.
Ada rindu yang masih ulung

Pun kenanganmu masih mengkungkung
“Mbak mau kemana?”

Aku menoleh kepada seseorang di sampingku. Laki-laki yang tadi menanyai waktu. Mungkin ia heran karena aku melamun
saja dengan raut muka pasrah.

“Saya menunggu jemputan teman saya. Mbak daritadi saya lihat hanya diam disini.”

Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba hujan turun lebat. Aku masih diam saja, mungkin aku sudah dilumpuhkan oleh sayatan-sayatan kenang yang bimbang.

“Wah mbak hujan, geser sebelah sini mbak.”

Aku menggeserkan diri ke samping kanan yang mampu sedikit menghindarkan aku dari air hujan.

“Mbak ada masalah ya?”

Aku tak mengerti, laki-laki di sebelahku ini suka sekali menanyaiku.
Tiba-tiba telapak tangannya ia tengadahkan di tetesan air hujan sambil matanya menerawang jauh.

“Hujan selalu mampu meluruhkan masa lalu.”

Mataku terbelalak, lelaki itu menyebut masa lalu.

Ia menoleh kepadaku, “Jangan terjebak oleh masa lalu mbak, bukankah masa lalu tak mampu diubah. Namun masa lalu mampu mengubah kita menjadi seseorang yang lebih baik jika kita memaknainya dengan benar.”

“Aku ingin menghapusnya atau bahkan melumpuhkan ingatanku saja.”
“Saya bisa membantunya.” Laki-laki itu tersenyum dan mendekat padaku.

*****

Ternyata ia yang mencipta isak perempuan ketika kemarin aku sedang berada di taman.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Wedding Bell

Wedding Bell

Kring...Kring..Kring...

“Siapa sih Dis yang ngbel-ngebel depan rumah.” Echa masih sibuk menatapi dirinya di depan cermin dengan gaun putih berenda merah jambu.
“Aldo kali’.”
“Hah? Aldo? Yang bener aja, aku nggak ada janjian sama dia.”
“Eh Cha, masa’ iya ketemuan sama calon istri masih aja pakai janji. Pikiranmu itu jangan ngantor terus dong.”
“Hih, kamu ya. Ya nggak gitu juga’ sih Dis tapi...”
“Udah-udah jangan banyak ngoceh deh, cepet ganti baju sana biar aku yang bukain pintunya.”

                *****

“Bajunya gimana Cha, sudah kamu coba kan?”
“Sudah, tadi waktu kamu ngebel pintu aku masih pakai gaunnya. Lagian kamu kenapa nggak bilang-bilang aku dulu sih kalau mau kesini.”
“Kan aku mau bikin surprise ke kamu. Yuk.”
“Loh, mau kemana?”
“Ikut aja yuk nanti juga tahu.”
“Do, kamu kok sekarang main misteriusan gini sih. Nggak suka ah.”
“Siapa yang misterius sih Echaku sayang. Ayo cepet gih buruan masuk mobil.” Aldo menggandeng tangan kekasihnya itu  menuju parkiran halaman depan rumah Echa.

Mobil itu melaju menuju sebuah restaurant yang sengaja Aldo persiapkan untuk makan malamnya bersama Echa. Ia ingin memberikan sentuhan romantis sebelum ia meminang Echa menjadi istrinya.

“Kamu tutup mata dulu ya.”
“Tuh kan, kamu kok sok misterius gini sih. Nggak suka ah aku.”
“Sayang, serius deh. Ini nggak seperti yang kamu bayangin waktu dulu.”

Echa memang sedikit trauma jika harus mengetahui kejutan dengan ditutup mata sebelumnya. Dulu pernah ia mendapatkan kejutan ulang tahun yang sangat menyeramkan dari teman-teman SMA nya. Ditinggalkan di sebuah hutan malam hari meskipun pada akhirnya memang ada kejutan manis untuknya. Namun ia tak suka gelap dan sendiri.

“Oke, tapi kamu gandeng tanganku terus ya.”
“Iya pasti sayang.”

Tapakan kaki mereka mantap menuju suatu taman.

“Itu suara apa Do?” Echa mendengar ada suara menyerupai lonceng.
“Nanti kamu tahu sendiri kok.”

Masih mereka menapaki rerumputan taman yang hijau segar.

“Surprise...”

Lonceng-lonceng warna perak bergemerincing di sekitar bangku tempat mereka akan makan. Temaram yang indah dihiasi dengan lilin-lilin kecil. Menambah romantis suasana.

“Kamu pernah bilang kan ‘Wedding Bell’ sangat berarti bagi sebuah pernikahan. Ia akan menyerukan ikrar setia kita untuk saling melengkapi. Lonceng-lonceng ini yang akan menjadi saksi pula bagaimana aku meminangmu nanti.”            

“Aldo...” Mata Echa berkaca-kaca haru. Ia tak sabar menunggu gemerincing lonceng pada hari sakral pernikahannya.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Kau Terindah Dalam Dunia Yang Tak Selamanya Indah

Kau Terindah Dalam Dunia Yang Tak Selamanya Indah

“Hmm...habis ini ke toko bunga, nganter pesenannya Bu Erni. Terus ke toko DVD beli kasetnya Kak Rubi, habis itu ke toko buku beli novel, terus....”

Braaak....

Tas Elsa jatuh menyerakkan segala isi yang ada di dalamnya, handphonenya pun tak luput terjatuh di jalanan setapak taman itu. Ia sibuk mengingat segala kegiatan yang akan dilakukannya hari ini. Memo di handphonenya selalu setia menemani tiap waktu kehidupannya. Elsa selalu tak terima jika hidupnya dibilang selalu tertata. Ia berkata bahwa memo di handphonenya untuk mendata daftar kebahagiaan dalam hidupnya.

“Aduh, kok bisa berantakan gini sih.” Elsa ngomel-ngomel sembari bibirnya yang terus meruncing karena kesal.
“Maaf, aku nggak sengaja.”
“Iya, nggak apa-apa. Aku juga yang terlalu ceroboh. Ma...” Elsa mendongak sejenak untuk mengatakan permintaan maafnya langsung pada sorot seseorang yang telah ia tabrak. Namun kata maafnya hanya sampai pada suku kata ma saja ketika ia tersadar akan sesuatu.
“Elsa...” Orang itu nampaknya juga menyadari ada memori yang terbersit seketika ketika mereka saling beradu pandang.

Elsa hanya mampu tercengang pada seraut muka berseri yang ia jumpai dulu ketika masih tinggal di Bandung.

“Masih ingat aku kan?” Laki-laki itu nampaknya senang sekali dapat bertemu dengan Elsa.
“Deri kan?” Elsa masih ragu-ragu menyebut nama orang yang ia rasa kenal itu.
“Iya Deri, lama nggak ketemu ya Sa. Kamu sih tiba-tiba ngilang gitu. Eh, sibuk nggak. Kita ngafe yuk, mumpung aku lagi liburan disini.”

Elsa tertegun mengamati sosok teristimewa yang dulu pernah hadir dalam hidupnya itu kembali memenuhi sorot matanya. Seketika memo di handphonenya sirna lalu ia hanya mengangguk-angguk saja mengiyakan ajakan Deri.

*****

“Kamu masih suka ngafe juga Sa?”

Elsa mengangguk.

“Masih sering ngejadwalin waktu di memo HP?”

Elsa mengangguk.

“Masih suka bangun tengah malam buat makan cake cokelat?”
“Deri, yang itu juga nggak usah disebutin kan” Elsa cemberut lalu memukul bahu Deri manja.

Elsa tak menyangka orang yang dulu benar-benar membuat hidupnya indah dan penuh warna kini sedang duduk di sampingnya. Ia sempat mencuri-curi pandang memerhatikan gerak-gerik Deri meminum secangkir moccacino kegemarannya dulu yang tak berubah sampai sekarang.

“Hei, hayo...ketauan deh yang daritadi ngeliatin aku mulu’. Kagum ya sama kegantenganku.”
“Ih, Geer deh kamu.” Elsa memalingkan muka
“Kamu kemana aja sih Sa, hilang begitu aja. Aku nyariin kamu kemana-mana tau”

Raut muka Deri berubah serius.

“Tega banget sih ninggalin aku gitu aja. Setidaknya kasih kabar kek gitu.”

Kali ini mimik Deri terlihat sendu.

“Hhh...maaf Der, banyak masalah yang menderaku kala itu. Sebenarnya aku juga nggak mau pergi ninggalin kamu tapi mau gimana lagi.”

“Yaudalah, jangan sedih-sedihan gini. Aku seneng bisa ketemu kamu lagi. Kamu nggak akan ninggalin aku lagi kan. Kamu selalu jadi yang terindah di hidupku Sa.”

Deri memegang tangan Elsa penuh penghayatan. Elsa tak mengangguk juga tak menggeleng untuk menjawab pertanyaan Deri. Matanya hanya mampu berkaca-kaca. ‘Kamu memang masih yang terindah pula untukku Der.. namun kehidupan tak seindah yang kau bayangkan sekalipun kita saling memberi keindahan.’

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

What a Bad Day and Good Day Today!

What a Bad Day and Good Day Today!

“Terus gimana dong Dis?”
“Apa kita jujur aja ke Nikas?”
“Dis !”
“Kalian bisa diem nggak sih? Aku juga bingung harus gimana sekarang? Bisa nggak, kalau nggak ke aku aja nyari solusinya. Daridulu sampai sekarang kalau lagi ada masalah kalian larinya ke aku, kalau udah runyam masalahnya aku yang disalah-salahin.”

Siang itu Gladis benar-benar emosi, terik mentari semakin membuat pikirannya semakin ruwet tak karuan.

'Hari ini sial benget sih, udah ban mobil bocor padahal udah bangun kesiangan. Dimarahin guru fisika gara-gara tugas ketinggalan di rumah. Ini lagi anak-anak pada nanyain masalah yang nggak gua lakuin.’ Gladis menggerundel dalam hati.

“Ya, maaf Dis. Kan elo bosnya disini?”
“Lo kira gua mafia? Pake’ acara bos-bos segala.”
“Kan elo yang paling sakti diantara kita.”
‘Lo pikir gua Wiro Sableng apa?’ Gladis hanya membatin sembari melotot pada Stella serta napas panjangnya berhembus tanda kesal.

Tiba-tiba pintu kelas digedor sangat keras dari luar.

“Eh, elo pada tanggung jawab. Uang gua lo taruhin buat nonton balapan. Sekarang balikin!”

Stella dan Disa dengan sigap bersembunyi di balik punggung Gladis.

“Tunggu, tunggu Nggar. Nggak perlu emosi begitu lah, bisa dibicarain baik-baikan.” Gladis yang sebenarnya gugup mencoba menimpali emosi Enggar dengan tenang.
“Lo pikir konferensi meja bundar pake’ dibicarin baik-baik. Udah balikin sini duit gua.”
“Oke, kasih Stella sama Disa waktu buat balikin duit lo.”
“Nggak pakai waktu-waktu an segala, itu duit buat bayar sekolah.” Enggar maju dua langkah dan napasnya mampu bertabrakan dengan napas Gladis.

Gladis semakin gugup saja karena ia berpikir Enggar akan melakukan kekerasan padanya.

“Atau elo yang jadi penebus utang-utang temen lo!”

Plak! “Jaga mulut lo!” Sebuah tamparan tepat mendarat di pipi Enggar.

“Kurang ajar...” Tangan Enggar sudah mantap akan memukul Gladis
“Bisa sopan sedikit nggak lo sama cewek?” Edo menyanggah tangan Enggar.

‘Edo, elo lagi. Elo selalu datang disaat gua lagi terdesak. What a Bad day and good day today!”

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Cinderellaku, Anggun!

Cinderellaku, Anggun!

“Aauu...”

Jalanan penuh kerikil di taman itu tertancap oleh sesuatu yang membuat anggun merengut pada malam pesta pertunangan Daru.

“Aduh...sakit...Duh...Hak sepatu juga pakai patah gini, tahu banget kalau aku lagi patah hati.” Anggun mengomel-ngomel sendiri.

“Kenapa juga aku tadi nolak tawaran Reni buat bareng-bareng kesini. Huh!” Masih terus mengeluh Anggun berjalan pincang-pincang mencari bangku taman.

‘Kalau aja aku nggak sok tegar datang ke acara pertunangan Daru mungkin nggak kayak gini jadinya.’ Celotehan Anggun beralih tanpa suara.

Anggun mengelus-elus telapak kakinya yang terasa nyeri akibat tergelincir hingga mematahkan hak sepatunya tadi.

“Ini belum pernikahan, masih pertunangan kalau udah jadi nikah paling paling ini .....”
“Kenapa Nggun?”

Ocehan Anggun terhenti lalu kepalanya mendongak pada sumber suara yang mungkin hanya berjarak sekitar lima meter di depannya.

“Loh, Ru. Kok kamu disini?” Anggun terkejut
“Kamu kenapa?”
“Kamu tuh yang kenapa? Acara pertunanganmu masih berlangsung kan? Kok malah disini?”

Daru duduk di samping Anggun, hanya diam tak menanggapi cercaan pertanyaan dari anggun.
Anggun menatap lekat wajah kekasihnya semasa SMA ini. Lekat sekali hingga peluh segar yang baru saja muncul dari dahinya dapat tertangkap mata oleh Anggun. Selintas kemudian memori indah masa-masa putih abu-abu mendera angannya. Namun buru-buru ia menggelengkan kepalanya ketika pilu menelusup masuk bahwa kenyataannya Daru bukan lagi miliknya. Anggun tersenyum kemudian.

“Selamat ya Ru, kamu sudah menemukan Cinderellamu.” Anggun masih menatap Daru lekat namun dengan pandangan kosong.

Daru yang sedari tadi menundukkan kepala akhirnya menoleh pada Anggun.

“Kamu masih Cinderellaku Nggun. Sama seperti sepatu yang kau pakai itu, dia masih sepatu kaca milikmu kan?”
“Ah, ini maaf ya sudah aku patahin haknya padahal kan ini hadiah dari kamu waktu sweet seventeenku dulu.”

Sedetik kemudian hening, mereka bertatapan penuh makna. Seakan-akan cinta masih saja ada di tiap sorotan mata.

“Aku masih cinta kamu.” Daru menggenggam tangan Anggun tiba-tiba.
“Tapi Ru,”
“Izinkan aku untuk tetap menganggapmu sebagai Cinderellaku.”

Lalu hanya senyum yang terulas pada bibir Anggun.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena

Mawar

Mawar

Mawar di taman belakang rumah masih semerbak, merekah merona, dan aku menyukainya. Kebanyakan orang berpendapat bahwa mawar adalah simbol cinta. Menurutku bukan sekadar itu, mawar merupakan simbol pertahanan diri paling anggun dengan merona mawarnya namun tak mudah dipetik karena durinya. Aku masih mengingat betul kala itu kalimat yang terlontar beberapa waktu lalu “Bunga mawar, ya. Aku sangat memfavoritkan bunga ini, bisakah kau merawatnya untukku Dem? Hanya mawar yang mampu mengobati luka karena merahnya tak sekadar mengisyaratkan amarah.” Aku hanya tersenyum disertai anggukan sepenuh hati.
        
“Dem, ngapain sih masih melamun di taman aja?”
“Nggak apa-apa kok.”
“Udah ditungguin mama di ruang tamu tuh.”
“Iya sebentar ya.”
“Yaudah, cepet gih.”

Aku menghampiri pot berwarna tanah liat bermotif bunga berwarna merah, isinya masih sama bunga mawar. Ku pandangi lekat.

“Dem, harum ya?”

Aku terperanjat, diulurkannya pot beserta bunganya ini di hadapanku

“Coba cium deh, hmmm...pasti harum.”

Aku mendekatkan hidungku agar penciumanku dapat menghirup udara wangi dari mawar merah yang kau pegangi.

“Nggak akan aku biarkan mawar ini layu Dem, seperti cintaku ke kamu.”

Ia menggamit tanganku manja.

“Kamu juga begitu kan.” Sorot matamu selalu begitu, sayu namun teduh.

Aku tersenyum dan membelai rambutmu yang hitam legam dan wangi bubble gum.

“Dem,” Ada yang menepuk pundakku dari belakang.
“Mama...”
“Kamu masih sibuk dengan mawar.”
“Sudah selesai kok ma.”
“Bukan bunga mawar yang mama maksud.”

Aku diam membisu, rasanya tiba-tiba membeku. Lalu di ulu hati terasa ngilu.

“Sampai kapan kamu begini Dem, tak bisa melupakan mawar yang telah pergi.”
“Tapi ma...”
“Baiknya kau banyak berdoa untuk dia, ikhlaskan Dem.”

Tubuhku menegang perlahan, gemetar hadir membuatku gamang. Ku belai tiap kelopak mawar merah ini satu persatu.

 “Aku tahu Dem, aku akan sirna setelah kelopak mawarku ini jatuh semua.”

Lalu pada musim gugur di tahun ini, benar saja kau pergi. Kau tak layu mawar, hanya saja masa kelopak cintamu telah luruh ditelan waktu. Namun aku masih akan terus mencintaimu tanpa harus menunggu kelopak mawarmu ini akan layu. Aku akan merawat indahnya agar tetap tumbuh karena mawar merupakan bahagia yang kau ciptakan untukku, bukan hanya ku biarkan tumbuh di tamanku tapi juga di hatiku.

RENA KHARISMA
TENTANG PENULIS:

PELAJAR/MAHASISWI
TWITTER: @kharismarena